Orang tua pasti bangga memiliki anak yang nilai studinya sempurna. Tidak hanya dibidang studi terkadang orang tua menyuruh anak agar juga sempurna dibidang non-akademik. Tanpa mereka sadari anak juga tertekan, ia menjadi stress dan bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya.
Berikut beberapa dampak ketika memaksa anaknya meraih nilai yang sempurna, yaitu :
1. Risiko penyakit mental lebih tinggi
Anak yang mendapat tekanan besar terus-menerus lebih mudah gelisah dan cemas. Belajar di bawah tekanan membuat anak mengalami kesulitan belajar, stres, dan depresi. Bahkan, tanggung jawab besar yang dipegang anak untuk selalu jadi nomor satu, bisa memunculkan pikiran anak untuk bunuh diri.
2. Merusak rasa percaya diri anak
Mendorong anak untuk terus berprestasi bisa mengganggu perkembangan kepercayaan dirinya. Anak jadi merasa tidak percaya diri karena hasil usahanya selalu tidak memuaskan.
3. Merusak kualitas tidur
Anak yang harus mendapatkan nilai bagus cenderung akan belajar hingga larut malam dan menyebabkan kualitas tidur anak jadi memburuk. Jika kualitas tidurnya buruk, ia akan sulit fokus di sekolah. Alih-alih nilainya bagus, si kecil akan semakin sulit mengikuti pelajaran.
4. Memiliki perilaku yang bermasalah
Tekanan untuk mendapat nilai bagus akan membuat anak melakukan hal yang salah, seperti mencontek atau melakukan kecurangan lainnya dalam belajar. Anak takut jika ia tidak mendapatkan nilai yang bagus, jadi ia akan melakukan berbagai cara.
5. Rajin belajar memang bagus, namun jika satu hari penuh akibatnya anak mudah stres dan depresi
Ketika anak terus dipaksa untuk belajar, akibatnya akan berdampak pada munculnya stres. Hal ini bisa terjadi karena anak tidak mendapat keseimbangan antara kewajiban belajar dengan aktivitas yang bersifat senang-senang. Jika stress dibiarkan dalam waktu yang lama dan Anda kurang memerhatikan nya, anak akan mudah mengalami depresi.
Anak yang depresi akan sulit dikendalikan karena ia akan bingung terhadap dirinya sendiri karena terlalu banyak ilmu yang diserap nya sehari-hari.
6. Anak yang terlalu banyak belajar justru akan alami kegagalan.
Meskipun ia kelihatan belajar terus-menerus sepanjang hari, sebenarnya anak tak sepenuhnya mendapatkan ilmu yang telah dipelajari nya. Hal ini disebabkan karena terlalu banyak asupan yang diterima tak sesuai dengan kemampuan menyerap nya yang masih kecil. Jadi, waktu akan terbuang percuma bila menyuruh si kecil belajar tanpa henti. Disarankan, bagi orang tua untuk mendampingi dan mengatur waktu belajar anak jadi lebih efisien. Ana tahu kapan waktu belajar, tidur, dan bermain-main.
7. Akan menjadikan anak kurang bersosialisasi dan takut menghadapi dunia luar.
Dampak buruk lainnya ketika Anda membuatnya belajar terus-menerus di dalam sebuah ruangan, baik itu ruang kelas, rumah, atau tempat les akan membuatnya sulit untuk bersosialisasi dengan anak-anak dan orang lain. sebab kegiatan yang dilakukannya sama setiap harinya dan terlalu membosankan.
8. Membuatnya terus belajar akan menimbulkan rasa takut.
Kebanyakan orang tua akan mudah marah ketika anak tidak memperoleh hasil sesuai dengan harapannya. Tak jarang orang tua memberikan hukuman fisik pada anak-anak mereka. Efek dari pemberian hukuman ini akan menimbulkan rasa takut pada anak, bahkan gangguan kejiwaan karena pikiran dan jiwanya terlalu stress untuk terus selalu disalahkan.
9. Belajar seharian akan membuat tubuh anak cepat lelah dan mudah sakit.
Kegiatan belajar yang padat dilakukan setiap hari berulang-ulang tidak memberikan waktu yang cukup bagi anak untuk beristirahat sebagaimana mestinya. Anak-anak setidaknya memerlukan waktu tidur selama 10 jam per hari. Jika Anda memaksakan anak belajar terus menerus akan membuatnya cepat kelelahan. Belum lagi stress yang dideritanya akan membuatnya mudah sekali jatuh sakit. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena obsesi yang berlebihan pada anak.
10. Kemampuan komunikasi anak tidak lancar, ia pun akan sulit untuk mengekspresikan emosi nya.
Berkutat dengan buku dan teori setiap hari, hanya berhadapan dengan guru yang silih berganti membuat anak akan terbiasa berkomunikasi hanya dengan orang yang sama. Ia akan kesulitan berkomunikasi dengan orang baru atau yang tidak dikenalnya. Jika seperti ini dibiarkan, ia akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi di lingkungan baru ketika dewasa nanti.
Belum lagi ia akan sulit mengungkapkan emosi yang sesungguhnya. Terlalu lama memendam emosi hanya akan berakibat fatal pada perkembangan psikis nya.
11. Tidak peduli dengan lingkungan sekitar atau orang-orang yang ada di sekelilingnya.
Ia hanya peduli pada nilai pelajaran dan pendapat orang tuanya yang selalu menuntut yang terbaik darinya. Ia tidak peduli dengan orang terdekat bahkan tidak memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosialnya. Cenderung membuatnya jadi egois dan fokus hanya pada satu hal saja.
12. Anak jadi hilang semangat dan tidak aktif bergerak.
Menurut laporan yang berasal dari De Sales University mengungkapkan bahwa terlalu letih saat belajar, saat di sekolah maupun di rumah dapat menjadikan anak hilang semangat dan tidak aktif bergerak. Anak terlalu malas melakukan kegiatan berat seperti olahraga karena pikirannya sudah terlebih dahulu mengalami kelelahan.
Disamping dampak negatifnya, ada beberapa solusi yang dapat dilakukan orang tua agar tetap menjaga kesehatan fisik dan psikis nya. Berikut solusinya :
1. Jadilah pendengar yang baik
Saat melihat semangat anak menurun, Mama bisa mengajak si Anak berbicara mengenai sesuatu yang membuatnya merasa tidak tenang. Dengarkan dengan penuh perhatian, kesabaran, keterbukaan, dan perhatian.
Saat nilai anak menurun misalnya, hindari ucapan yang terkesan menyalahkan, memberi ceramah, atau mengatakan apa yang menurut orang tua seharusnya dilakukan oleh anak
Jadilah pendengar yang baik untuk anak, agar ia merasa nyaman untuk menceritakan semua masalah yang menyangkut persoalan sekolahnya. Hal ini tentunya sangat penting untuk mengatasi rasa stres yang dialaminya.
2. Ajarkan anak mengelola stres mereka sendiri
Banyak anak-anak yang sulit untuk menggambarkan kondisi kecemasan mereka pada saat sedang mengalami stres.
Anak biasanya akan mengekspresikan nya dengan amarah atau frustrasi. Saat anak mengalami ini, hal yang dapat lakukan adalah menggunakan kata-kata baik untuk membantunya belajar dan mengajarkan padanya untuk dapat mengidentifikasi emosi nya dengan baik.
Ini memang bukan hal yang mudah, namun perlahan tetapi pasti, cara ini dapat membuat anak tumbuh menjadi pemecah masalah yang baik.
3. Bersikap tenang dihadapan anak
Anak-anak akan melihat cara orangtua mereka bersikap untuk menentukan bagaimana mereka bereaksi dalam situasi tertekan. Jadi saat melihat orangtua tampak khawatir, anak dapat saja merespon nya dengan menangis.
Jadi saat anak mengalami stres, tak terkecuali stres belajar, jangan tunjukkan kecemasan.
Bersikaplah lebih tenang dalam menghadapinya karena kecemasan yang orang tua tunjukkan dapat meningkatkan kecemasan yang dialami anak. Hadapi dengan tenang agar anak juga tenang menghadapinya.
4. Berikan ruang untuk anak
Anak-anak butuh waktu untuk bersantai dan menjadi “anak-anak” secara semestinya. Karena masa kanak-kanak identik dengan bermain, orang tua tetap harus memberikan ruang untuk anak bermain bersama teman-temannya atau melakukan kegiatan yang disukainya.
Orang tua bisa menjadwalkan waktu bermain anak setiap hari agar stres belajar pada anak dapat berkurang. Namun batasi juga waktu bermain dengan baik ya agar anak juga bisa disiplin.
5. Hentikan kebiasaan menuntut kepada anak
Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang pintar dan memiliki prestasi yang baik di sekolah. Namun orang tua harus ingat, setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda. Mengajarkan anak untuk mendapatkan nilai yang baik memang penting, namun bukan berarti orang tua harus bersikap terlalu keras kepadanya.
Jika anak memiliki nilai yang buruk, jangan membandingkan anak dengan anak lainnya. Mama perlu lebih bersabar dalam menghadapinya dan diskusikan kesulitan yang dihadapinya agar anak tak merasa tertekan dan stres.
Hal yang tak kalah penting yang harus orang tua ingat adalah menghindari pemberian pelajaran tambahan secara berlebih. Les tambahan yang berlebih dapat membuat anak mengalami stres belajar.
sumber :
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/09/28/113705620/jangan-paksa-anak-belajar-agar-dapat-nilai-bagus-ini-dampak-buruknya?page=all
https://sayangianak.com/8-dampak-buruk-yang-bisa-terjadi-jika-anak-terlalu-lama-belajar/
https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/rachma-novianty/cara-mudah-mengatasi-stres-belajar-pada-anak/full

Komentar
Posting Komentar